Malioboro, Yogya, Dulu dan Sekarang




Ada ungkapan tak afdol rasanya bila ke Yogyakarta namun belum berkunjung ke Malioboro. Hal ini memang senantiasa diucapkan oleh wisatawan asing dan utamanya wisatawan domestik bila berkunjung ke Yogya. Tapi, apa daya tarik Malioboro sehingga mempunyai daya pikat tersendiri? Apakah karena lesehan yang digelar setiap malam dengan harga (yang dulunya) dikenal murah, atau dulunya dikenal juga sebagai tempat nongkrong para seniman yang lantas melahirkan Umbu Landu Paranggi yang dijuluki presiden Malioboro? Bisa jadi begitu. Berbicara kawasan Malioboro (yang dimulai dari palang kereta api stasiun Tugu hingga perempatan Pecinan – kini Gandekan) tak lepas dari kraton Yogyakarta. Dahulu kala, ketika Sultan duduk di Bangsal Manguntur Tangkil di Siti Hinggil, maka pandangan Sultan akan tertuju ke Tugu dan jauh di belakangnya tampak gunung Merapi yang menjulang tinggi. Dan dari Tugu menuju kraton Yogya itu terdapat jalan Margotomo (kini Jl. P Mangkubumi), Malioboro dan Margomulyo (kini Jl. Ahmad Yani). Masing-masing nama jalan itu mempunyai makna tersendiri. Margotomo dimulai dari Tugu sampai pintu kereta api stasiun Tugu) , misalnya, sebagaimana diungkapkan oleh Yuwono Sri Suwito, mantan Direktur Operasional Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Boko, diartikan jalan menuju keutamaan. Sedangkan Malioboro terdiri dari dua kata. Mali diartikan Wali, dan Boro berarti obor, pelita, penyuluh, penunjuk jalan. Maksudnya, gunakanlah ilmu yang dipaparkan para wali sebagai pedoman ke hidup sempurna, tenteram, sabar dan damai. Sementara Margomulyo (dari perempatan Pecinan hingga perempatan Gedung Agung), artinya jalan menuju ke hidup mulia.
Malioboro yang menjadi salah satu simbol bagi Yogyakarta telah mengalami banyak perubahan. Melihat malioboro sekarang menunjuk kemajuan yang ada mungkin membuat orang kagum, setidaknya dari segi fisik. Namun mengurangi suasana yang pada waktu dulu mungkin pernah ada, misalnya keteduhan sepanjang jalan kawasan malioboro. Meskipun malioboro menjadi tempat dagang (dulu maupun kini), tetapi ada suasana lain yang tidak bisa ditemui ditempat lain, setidakya ada sentuhan kultural. Namun malioboro sekarang sepenuhnya adalah untuk kepentingan niaga. Bukan persoalan benar atau salah, tetapi orang segera tahu, bahwa malioboro telah berubah.
sumber
http://www.sinarharapan.co.id
http://www.tembi.org

0 comments:

Post a Comment

 
@2012 www.fauzirohimi.com | zyyro@yahoo.com